RSS

Quraan Surah Al Fatihah

08 Jun

Fiqh al-Fatihah

Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam al-Qur’an. Hal itu berdasarkan hadits Abu Sa’id bin Al Mu’alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat.

Surat al-Fatihah adalah surat Makiyah menurut pendapat yang kuat di antara pendapat ahli ilmu. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

(yang artinya), “Sungguh Kami telah memberikan kepadamu tujuh yang diulang-ulang dan sebuah al-Qur’an/bacaan yang sangat agung.”
(QS. al-Hijr : 87).

Ayat ini terdapat di dalam surat al-Hijr, sedangkan surat al-Hijr adalah surat Makiyah berdasarkan ijma’ (sebagaimana dinukil oleh al-Qurthubi).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pun telah menafsirkan bahwa tujuh ayat yang diulang-ulang dan al-Qur’an yang agung itu sebagai surat al-Fatihah (HR. Bukhari).

Demikian pula shalat diwajibkan di Mekah, sedangkan Nabi ‘alaihish sholatu was salam bersabda,

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

“Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab/ surat al-Fatihah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Nama-nama lain al-Fatihah

al-Fatihah memiliki nama-nama lain, sebagian di antara nama-nama tersebut adalah :
* Fatihatul kitab

Penamaan ini tidak diperselisihkan di kalangan ulama dikarenakan al-Kitab/ al-Qur’an memang dimulai dengannya, dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

“Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab/ surat al-Fatihah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

* Ummul Kitab

Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كُلُّ صَلَاةٍ ا يُقْرَأُ فِيهَا بِأُمِّ الْكِتَابِ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ

“Setiap shalat yang tidak dibacakan didalamnya Ummul kitab (surat al fatihah) maka ia kurang, ia kurang dan tidak sempurna.”
(Shåhiih, HR. Ahmad dan lainnya)

Hal itu juga sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, yang di dalamnya dia mengatakan,
“… Dan tidaklah aku meruqyah melainkan dengan membaca Ummul Kitab.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

* Ummul Qur’an

Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ

“Ummul Qur’an itu adalah sab’ul matsani -tujuh ayat yang selalu diulang-ulang- dan al-Qur’an yang agung yang dianugerahkan kepadaku.”
(HR. Bukhari)

* al-Hamdu atau alhamdulillahi Rabbil ‘alamin,

Råsulullåhh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْحَمْدُ لِلَّهِ أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي

“Alhamdulillah (surat Al Fatihah) adalah ummul Qur’an, ummul kitab dan sab’ul matsani.”
(Hasan Shahiih; HR. Abu Dawud, at-Tirmidziy, ad-Darimiy; dll)

Juga berdasarkan ucapan Anas:
“Aku pernah shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Mereka dahulu selalu membuka bacaan shalat dengan alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

[Namun dalam menafsirkan ungkapan ‘alhamdulillah’ di sini ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah bacaan alhamdulillah, bukan nama bagi surat al-Fatihah, lihat Shahih Muslim cet Darul Kutub Ilmiyah 1427 H, hal. 156. pent]

* ash-Shalah

Hal itu berdasarkan hadits qudsi,
Allah berfirman,

يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta.
“Aku membagi ‘shalat’ menjadi dua bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dimintanya….”
(HR. Muslim)

* as-Sab’ul Matsani wal Qur’an al-’Azhim,

Hal itu berdasarkan hadits yang telah disebutkan di atas (HR. Bukhari)

* ar-Ruqyah

Karena Abu Sa’id dahulu pernah meruqyah dengannya

* as-Syafiyah

Sebab orang yang terkena sengatan binatang berbisa bisa sembuh dengan membacanya dengan izin Allah tentunya

* Dan lain sebagainya, wallahu a’lam.

Pentingnya memperhatikan bacaan al-Fatihah

Penjelasan Al-Imam Ibnu Utsaimin
Beliau dalam Asy-Sayrhul Mumti jilid 3 menguraikan cukup panjang masalah ini. Kitab beliau ini adalah syarah dari kitab “Zaadul Mustaqni’ fikhtishor Al-Muqni’ buah karya Abi An-Najaa Musa bin Ahmad bin Musa.KItab yang sedikit lafadz akan tetapi banyak mengandung makna. Sebagai ringkasan dari kitab “Al-Muqni”. Kitab dalam madzhab Imam Ahmad bin Hambal.
Ucapannya

ثم يقرأ الفاتحة
(kemudian membaca Al-Fatihah)

Huruf (Alif Lam “Al“) pada Al-Fatihah menunjukkan keumuman,yaitu membacanya dengan sempurna tertib dengan ayat-ayatnya,kata-katanya,huruf-hurufnya,dan harokat-harokatnya.

Seandainya dibaca hanya enam ayat saja maka tidak sah.Seandainya dibaca tujuh ayat akan tetapi tertinggal membaca (Adh-dhollin) saja maka tidak sah.
Seandainya dibaca lengkap semua ayat tidak tertinggal satu kalimat pun akan tetapi tertinggal satu huruf semisal membaca “Shirotholladzina an’am ‘alaihim dimana tertinggal huruf “ta” maka tidaklah sah.
Seandainya tertinggal harokat juga tidak sah.
Juga jika dialek yang memungkinkan menghilangkan makna, kecuali jika tidak maka tetap sah.
Akan tetapi tidak boleh bersandar pada dialek ucapan yang salah. Misal dari yang menghilangkan (merubah) makna ucapan “Ihdina” dibaca “Ahdina” dengan memfathahkan hamzah.
Karena maknanya bisa berbeda.Yaitu jika dibaca “Ahdina” artinya “kami memberikan kepadanya hadiah”,tetapi jika dibacanya benar dengan hamzah washol maka bermakna “tunjukkan kepada kami atasnya dan memberikan taufiq kepada kami dan dijelaskan kepada kami”

Seandainya orang membaca ayat ketujuh
“Shirotholladziina in’amta ‘alaihim”
Maka tidak sah karena maknanya berbeda yaitu al-in’am (nikmat) itu asalnya dari pembaca bukan dari Allah.
Contoh dari yang tidak menghilangkan makna seperti ucapan Alhamdi lillah dengan mengganti harokat dhommah.
Jika mengucapkan dengan Alhamdulillahi robil ‘alamin dengan tidak mentasydid huruf “ba (pada kata yang seharusnya dibaca “Robbil ‘alamin) maka ini tidak sah disebabkan telah menghilangkan satu huruf,karena huruf tasydid merupakan ungkapan dari dua huruf.

Oleh karenanya harus dan mesti membacanya secara sempurna dengan ayat-ayatnya, kalimat-kalimatnya, huruf-hurufnya, harokat-harokatnya. Maka jika meninggalkan satu ayat saja atau huruf atau harokat dimana merubah makna maka tidak sah.

Dalam paragraf lain Syaikh meringkas :
Ucapannya “yaqro-ul fatihah” bermakna ucapan ini bahwasannya harus dibaca dengan keseluruhan huruf-hurufnya,harokat-harokatnya dan kalimat-kalimatnya dan tertib urutan ayatnya.

Inilah lima perkara :
– Ayat,
– kalimat,
– huruf ,
– harokat
– dan tertib urutan.

Dan ini diambil dari ucapan penulis “Al-Fatihah” karena Alif Lam (Al) disini untuk mengingatkan bahwa maksudnya Al-Fatihah yang dikenal dimana terdiri dari tujuh ayat beserta kalimat, huruf, harokat dengan tertib. Harus bersambungan yakni tidak memotongnya dengan jeda yang panjang, karena ini adalah ibadah yang satu maka disyaratkan bersambungan sebagaimana membasuh anggota-anggota wudhu

Penjelasan Al-Imam Albani
Beliau membuat bab khusus dalam Sifat Sholat Nabi (yang saya rujuk adalah kitab Al-Ashlu Sifat Sholat Nabi), bab tersebut adalah Al-Qiroah ayatan ayatan.Tentu kita sering mendengar Imam sholat semisal membaca menyambungkan dua ayat atau lebih dalam surat ini seperti ini

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين مَالِكِ/مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Alhamdulillahi robbil ‘aalaminarrohmanirrohimimmaalikiyaumiddin…

Al-Imam Albani dalam pembahasan beliau dalam bab ini menjeaskan kaifiyat yang benar.
Beliau mengatakan :
Kemudian membaca Al-Fatihah dan memotongnya ayat per ayat: kemudian berhenti dilanjut membaca الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين kemudian berhenti dilanjut membaca الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ kemudian berhenti dilanjut membaca maaliki yaumiddin. Demikianlah sampai akhir surat. Demikian juga dalam bacaan selain Al-Fatihah,berhenti pada tiap-tiap ayat tanpa menyambungnya.

Dalilnya ada dalam Al-Irwa (343) diriwayatkan oleh Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha , bahwasannya beliau ditanya tentang bacaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, maka Ummu Salamah berkata:

يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً

Beliau membacanya dengan memotong ayat per ayat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
(Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
(Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)

مَالِكِ/مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(Yang menguasai hari pembalasan)

Keluasan takhrij hadist silahkan merujuk pada kitab beliau.
Adapun hal ini dikatakan beliau mutlak berlaku tidak hanya pada Al-fatihah tetapi juga pada surat lain, dasarnya adalah ucapan rawi hadist :

Rasulullah membaca ayat per ayat. Dan ini mutlak tidak diikat hanya pada Al-Fatihah, tidak berarti membatasi hanya pada Al-fatihah, tapi berlaku semisal pada surat yang lain
(Al-Zaad 1/521)

Syaikh Albani berkata
”Inilah yang afdhol, yakni berhenti tiap ayat, meskipun ayat sesudahnya berkaitan”
Juga beliau berkata:
“Mengikuti petunjuk Nabi dan sunnahnya adalah lebih utama. Diantara yang mengatakannya adalah Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan selainnya menguatkan berhenti pada tiap ayat meskipun berkaitan dengan ayat sesudahnya.”
Kemudian beliau menukilkan perkataan Syaikh Ali Al-Qori :
“Telah bersepakat Ahli Qiroat bahwasannya berhenti dalam tiap fasal adalah berhenti yang hasan (baik), meskipun ayatnya berkaitan dengan ayat sesudahnya.”
Silahkan membaca kaki nota beliau yang cukup panjang dari halaman 293-298 Al-Ashlu Sifat Sholat Nabi cetakan 2006 Maktabah Al-Ma’arif.

Cara membacanya yakni:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
——-
Apakah basmallah merupakan bagian dari surat al-fatihah dan surat-surat lainnya?

Terjadi khilaf diantara para ulama mengenai hal ini

Ulama Malikiyyah berpendapat bahwa basmallah bukan merupakan bagian al-fatihah dan seluruh surat-surat lain di Al-Qur’an.

Ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa basmallah adalah bagian ayat dari Al-Quran dan diturunkan terpisah dari tiap surat di Al-Quran, dan bukan bagian dari Al-Fatihah.

Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa basmallah adalah bagian Al-fatihah dan surat-surat lain.

Dalam penjelasan hadits no 270/15, Imam Shon’aany menerangkan Imam Nasa’i berpendapat bahwa yang terkuat adalah membaca basmallah (baik itu jahr ataupun siir). Hukum bacaannya mengikuti hukum al-fatihah. Hadits terkuat dalam permasalahan ini (jahr/ sir-nya basmallah) adalah riwayat Nu’aim dari Abi Hurairah
“Aku shålat di belakan Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu, lalu beliau membaca

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
kemudian membaca ayat Quran….”

di akhir hadits Abu hurayrah berkata:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, Aku adalah orang yang paling menyerupai Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam shalat.
(Shahiih, Riwayat Nasa’i)

Apakah pembacaan basmallah, siir atau jarh?
Ulama dari Madzhab Abu Hanifah berpendapat bahwa dibaca sir pada Al-Fatihah di tiap tiap råkaat dan sunnah untuk membacanya pada tiap surat yang lain

Ulama dari Madzhab Syafi’y berpendapat membaca basmallah adalah wajib, dibaca jahr waktu shålat jahr (baik pada surat al-fatihah atau surat-surat yang lain), dan dibaca sir waktu shålat sir, dan juga pada tiap tiap surat

Ulama dari Madzhab Hambaly berpendapat dibaca sir dan tidak sunnah men-jahr-kannya, baik itu pada waktu membaca al-fatihah ataupun surat-surat yang lain.

Berkata Syaikh Masyhur Hasan Salman,
“Yang benar dikatakan, “Masalah ini adalah masalah yang lapang. Dan pendapat yang membatasi pada satu tidak mungkin. Dan setiap yang berpegang kepada satu riwayat dia benar dan berpegang kepada As-Sunnah. Yang sempurna adalah mengikuti Al-Mushthofa shollallahu ‘alaihi wa sallama dalam segala keadaan. Maka kadang dijaharkan dan lebih sering di sirr-kan. Kepada Allah kita meminta tolong, dan Dialah yang menunjuki kepada jalan yang lurus”
[Al-Qowlul Mubin hal. (234)]

Maka keliru jika seseorang meninggalkan secara mutlak membaca basmallah tanpa pernah menjaharkannnya sekali-kali; sebagaimana kelirunya orang yang terus-menerus men-jaharkannya dan tidak pernah men-sirrkannya.
——-

Kemudian membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
(Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
(Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)

مَالِكِ/مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(Yang menguasai hari pembalasan)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين
(Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
(Tunjukilah kami ke jalan yang lurus)

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّين
((yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani))

Wajibnya membaca al-fatihah
Membaca al-fatihah merupakan salah satu rukun shålat, yang wajib dilaksanakan pada setiap raka’at dalam setiap shålat (baik jahr maupun sirh), berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam:

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب
“Tidak ada shålat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah di dalamnya.”
[H.R. Al Jamaah]

Pembacaan al-fatihah gugur, ketika makmum mendapati imam telah ruku’, karena tidak memungkinkan baginya untuk menyempurnakannya dan bisa jadi melewatkan ruku’, karena telah dijaminnya bagi makmum satu raka’at apabila ia mendapati imam sedang ruku’.

Maka hadits umum yang menyatakan

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب
“tidak ada shålat bagi yang tidak membaca al-fatihah”

Digugurkan dengan hadits khusus
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا جِئْتُمْ وَاْلإِمَامُ رَاكِعٌ فَارْكَعُوْا, وَإِنْ كَانَ سَاجِدًا فَاسْجُدُوْا, وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسُّجُوْدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ الرُّكُوْعُ

“Jika kalian datang, sedang imam ruku’, maka ruku’lah. Jika ia sujud, maka bersujudlah, dan jangan perhitungkan sujudnya, jika tak ada ruku’ yang bersamanya”.
[HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2/89/no.2409)]

Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

عَنْ عَبْدِ اللهِ يَعْنِيْ ابْنَ مَسْعُوْدٍ قَالَ : مَنْ لَمْ يُدْرِكِ اْلإِمَامَ رَاكِعًا لَمْ يُدْرِكْ تِلْكَ الرَّكْعَةَ

“Barangsiapa yang tak mendapatkan imam sedang ruku’, maka ia tidak mendapatkan raka’at tersebut”.
[HR. Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no.2411)]

Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ أَدْرَكَ اْلإِمَامَ رَاكِعًا فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ اْلإِمَامَ رَأْسَهُ, فَقَدْ أَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ

“Barangsiapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’, lalu ia ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka sungguh ia telah mendapatkan raka’at tersebut”.
[HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2520), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no. 2413)]

Yang kemudian menjadikan hadits pertama menjadi hadits umum yang terkhususkan.
[Disalin dari buku Majmu’ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani Hafidzzhullah, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]

Syaikh ibn Baaz berkata:
“Membaca doa istiftah adalah sunnah dan membaca Al-fatihah adalah wajib (–dan termasuk rukun shalat–) bagi yang sholat dibelakang Imam, berdasarkan pendapat ulama yang lebih benar.

Apabila anda khawatir ketinggalan membaca Al-Fatihah maka mulailah dengan membacanya (tidak perlu membaca doa iftitah).

Dan jika Imam ruku sebelum anda selesai membaca al-fatihah maka rukulah bersama Imam dan yang tersisa dari kewajiban membaca Al-Fatihah itu telah terangkat berdasarkan sabda Nabi (shallallåhu ‘alaihi wa sallam):

إنما جعل الإمام ليؤتم به ، فلا تختلفوا عليه ، فإذا كبر فكبروا ، وإذا ركع فاركعوا

”Imam itu dangkat untuk diikuti, maka janganlah menyelisihinya.Apabila Imam takbir, maka bertakbir. Jika imam ruku, maka ruku’lah…”
(muttafaqun ‘alaihi)
(–sampai disini perkataan Syaikh ibn Baz–)

Bagi yang belum hafal dengan surat ini dapat menggantikannya dengan berdzikir kepada Allåh, dengan dzikir-dzikir yang ia ketahui. Namun sangat ditekankan baginya untuk menghafal surat ini, karena membaca surat ini merupakan salah satu rukun shalat.

Hukum bagi makmum
Ulama berbeda pendapat kedalam tiga pemahaman dalam masalah ini, dan pendapat mereka terbagi menjadi tiga pendapat:

1. Wajib diam mendengarkan bacaan Imam jika bacaannya dikeraskan. Apabila tidak terdengar bacaan Imam, misalkan karena jauh maka wajib membaca.
Pendapat ini dipilih dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berbaris dalam barisan ini diantaranya Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Imam Malik bin Anas,dan lainnnya.

2. Wajib membaca al-fatihah secara mutlak baik dalam shalat jahriyah atau sirriyah, juga baik mendengar suara imam maupun tidak.
Berbaris dalam pendapat ini diantaranya: ‘Umar bin Khattab, ‘Ubadah bin Shamit, ‘Abdullah bin Amr bin ‘Ash, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhum jami’an, Imam Syafi’i dalam qoul jadidnya, Ishaq bin Rahawaih, Imam Al-Bukhari, Imam Asy-Syaukani,dan lain-lain.

3.Tidak wajib membaca, baik dalam shalat jahriyah maupun sirriyah.
Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud, Imam Abu Hanifah dan lainnya.

Yang Rajih adalah pendapat yang kedua, berdasarkan hadits hadits berikut:
1. Dalam riwayat muslim,tirmidzi,An-Nasai,Abu Daud, Ibnu Majah,Imam Ahmad dan Imam Malik disebutkan, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata (dalam lafadz riwayat Imam Ahmad):

أَيُّمَا صَلَاةٍ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثُمَّ هِيَ خِدَاجٌ ثُمَّ هِيَ خِدَاجٌ

Shalat apa saja yang tidak dibaca didalamnya surat Al-Fatihah maka shalatnya rusak kemudian rusak dan rusak
(Khidaz disebutkan oleh Imam Albani dalam bukunya, artinya “An-Nuqshon wal fasad”)

Huruf (Ayyu) menurut ulama ushul disebutkan sebagai minal huruf allati tadullu ‘alal umum (huruf yang menujukkan makna umum). Ditambah lagi bahwa kata “sholatin” yang berbentuk nakiroh yang bermakna umum juga. Maka disini, Nabi tidak membedakan shalat imam atau shalat makmum, juga tidak membedakah shalat jahriyah ataupun sirriyah.

Kaidah ushul mengatakan :
أن الأصل في العام أن يبقى على عمومه حتى يدل الدليل على التخصيص

Asal dalam bentuk umum adalah tetap pada keumumannya sampai datang dalil yang menunjukkan kekhususannya

Seandainya memang disana ada pengecualian, maka tentunya Nabi akan mengatakan :“Kecuali bagi makmum” atau “Kecuali bagi yang shalat dibelakang imam” atau yang semakna dengan ini.

2. Hadist Ubadah bin Shamit, hadist muttafaqun ‘alaih:
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat Al-Fatihah

Kata shalat bentuknya nakiroh.
Adalah kaidah mengatakan :
أن النكرة في سياق النفي تدل على العموم

(Bahwa Nakirah dalam bentuk nafyu (peniadaan) menunjukkan makna umum)
Nabi menjelaskan bahwa shalat tidaklah sah apabila tidak membaca Al-Fatihah, sama saja apakah sebagai makmum atau ketika shalat sendiri atau ketika menjadi imam. Yang menunjukkan akan wajibnya membaca Al-Fatihah ini adalah kalimat “Laa shalata” sebagai peniadaan (nafyu).

Asal dari peniadaan adalah peniadaan wujud (nafyun lil wujud), apabila tidak mungkin dengan makna ini,maka nafyu tersebut dibawa kepada peniadaan keabsahan (nafyun lilshihhah). Dan apabila tetap tidak mungkin dengan makna kedua ini, maka dibawa maknanya kepada peniadaan kesempurnaan (nafyun lilkamal). Inilah urutan dari an-nafyu.

Contoh :
-Laa kholiqo illallah (tidak ada pencipta selain Allah ), maka peniadaan disini peniadaan wujud.
-Laa sholata bighoiri wudhu’ (tidak ada sholat dengan tanpa wudhu), maka peniadaan disini peniadaan keabsahan (sah). Karena bisa saja sholat dilakukan tanpa wudhu sebelumnya.
-Laa sholata bihadhroti tho’amin (tidak ada sholat dengan hadirnya makanan), maka peniadaan disini adalah peniadaan kesempurnaan. Karena sholat tetap sah walaupun dihadapannya tersedia makanan.

Setelah memahami perbedaan diatas, bagaimana penilaian kita dengan hadist Nabi “Laa sholata liman lam yaqro’ bifatihatil kitab”?

Jawab : Mungkinkah orang shalat tanpa membaca Al-Fatihah? Mungkin saja!.Oleh karenanya penafian disini bukanlah penafian wujud. Maka penafian disini bisa dipastikan penafian urutan kedua, yakni penafian keabsahan (sah). Maka kita katakan bahwa tidak sah shalat tanpa membaca Al-fatihah.

Kaidah mengatakan :
الأصل في النصوص العامة أن تبقى على عمومها ، فلا تخصَّصُ إلا بدليل شرعيٍّ ، إما نصٌّ ، أو إجماعٌ ، أو قياس صحيح

Asal dalam nash yang umum adalah tetap pada keumumannya, tidaklah dikhususkan kecuali dengan dalil syar’iy baik itu nash atau ijma’ atau qiyas yang shahih.

3. dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam shalat shubuh bersama kami, bacaan terasa berat oleh beliau, seusai shalat beliau menghadapkan wajah ke arah kami lalu bersabda:

إِنِّي لَأَرَاكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ إِذَا جَهَرَ

“Setahuku, kalian membaca dibelakang imam kalian saat (imam) membaca keras (jahr)?”

Mereka menjawab;
“Ya, demi Allah wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam! Kami melakukannya”

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

فَلَا تَفْعَلُوا إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا

“Jangan lakukan (–yakni membaca surat–); kecuali ummul qur`an (–al fatihah–) karena tidak sah shalat bagi orang yang tidak membacanya.”
(Hasan, HR. Ahmad, Tirmidziy, ad-Daaruquthniy; dihasankan oleh al-Imam ad-Daaruquthniy, Ibn Hajar dan Syaikh Ahmad Syaakir)

Dalam riwayat an Nasaa-iy dan ad-Daaruquthniy:
dari Nafi’ bin Mahmud bin Ar Rabi’ah’ Al Anshariy, ia berkata;
‘Ubadah bin Shamit terlambat dari shalat shubuh, maka Abu Nu’aim seorang Mu’adzin mengumandangkan adzan untuk shalat, lalu Abu Nu’aim mengimami shalat orang banyak, tidak lama kemudian Ubadah datang bersamaku hingga kami mengambil shaf di belakang Abu Nu’aim, sedangkan Abu Nu’aim mengeraskan bacaannya, sementara ‘Ubadah membaca Al Fatihah.
Ketika shalat selesai, aku bertanya kepada Ubadah;
“Aku mendengar kamu membaca Al Fatihah ketika Abu Nu’aim mengeraskan bacaannya.”
Dia menjawab;
“Ya, kami juga pernah melakukan ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sebagian shalat yang bacaannya di keraskan.”
Katanya melanjutkan;
“Hingga bacaannya bercampur, selepas shalat, beliau menghadap kami sambil bersabda:
“Apakah kalian juga ikut membaca ketika aku mengeraskan bacaanku?”
Sebagian kami menjawab;
“Kami melakukan hal itu.”
Beliau bersabda:
فَلَا وَأَنَا أَقُولُ مَا لِي يُنَازِعُنِي الْقُرْآنُ
Oleh karenanya aku berkata (dalam hati), kenapa ada yang membaca bersamaku dan mendahuluiku dalam membaca Al Qur’an?!
فَلَا تَقْرَءُوا بِشَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ إِذَا جَهَرْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ
Janganlah kalian membaca sesuatu pun ketika aku mengeraskan bacaan, kecuali bacaan Al Fatihah.”

Dan dari [Makhul] dari [‘Ubadah] seperti haditsnya Ar Rabi’ah’ bin Sulaiman, mereka berkata;
“Mak-hul biasa membaca Al Fatihah dengan suara lirih pada waktu shalat Maghrib, Isya’ dan Shubuh, di setiap raka’atnya.”
Kata Mak-hul;
“Bacalah Al Fatihah dengan suara lirih (pelan) ketika imam mengeraskan bacaannya ketika berhenti dari membaca Al Fatihah, apabila imam tidak berhenti (diam), maka bacalah sebelum imam membaca atau membaca bersamanya atau setelah imam membacanya, yang penting, janganlah kamu meninggalkannya (tidak membaca Al Fatihah).”
(HR. an Nasaa-iy; diriwayatkan juga oleh al-Imam ad-Daruquthniy dan beliau berkata: رواته ثقات “para perawi dalam hadits ini seluruhny TSIQAH”)

3. Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an di dalamnya, maka shalatnya masih mempunyai hutang, tidak sempurna” Tiga kali.
Ditanyakan kepada Abu Hurairah,

“(Bagamaina kalau) kami berada di belakang imam?”
Maka dia menjawab,
اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ

“Bacalah Ummul Qur’an dalam dirimu…”
[—Berkata Syaikh al-Albaniy mengomentari perkataan ini:
Dan kalimat : “Bacalah dalam dirimu”, tidak bisa kita artikan membaca sebagaimana lazimnya (hanya dalam hati saja); (akan tetapi) yaitu MEMBACA dengan memperdengarkan untuk dirinya, dengan mengeluarkan huruf-huruf dari makhraj-makhraj (tempat-tempaty) huruf.
(lihat sifat shalat nabi)—]

karena aku mendengar Rasulullah bersabda,

يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Allah berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta.

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ

Apabila seorang hamba berkata,
{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي
Maka Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’

وَإِذَا قَالَ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }

Apabila hamba tersebut mengucapkan, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang)
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي
Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’

وَإِذَا قَالَ { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }

Apabila hamba tersebut mengucapkan, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (‘Pemilik hari kiamat.)
قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي
Allah berkata, ‘HambaKu memujiku.’

وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي
Selanjutnya Dia berkata, ‘HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.’
فَإِذَا قَالَ { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }

Apabila hamba tersebut mengucapkan, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين (Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan)
قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ
Allah berkata, ‘Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’.

{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }

Apabila hamba tersebut mengucapkan, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.)
قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Allah berkata, ‘Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’.”
(HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, al-Bayhaqiy dll.)

Al-Imam ibnul-’Utsaimin berkata (secara makna):
“Nash-nash yang menyebutkan tentang kewajiban membaca al-fatihah, –baik dalam keadaan jahr maupun sirr– adalah SHAHIIH dan SHÅRIIH”

BAHKAN al-Imam al-Albaniy yang menguatkan pendapat diam ketika imam membaca dengan keras berkata setelah mengomentari hadits-hadits diatas:
“Pendapat yang kuat, bahwa (–hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa–) BOLEH membaca Al-Fatihah (–dalam shalat jahriyyah–), (namun) bukan wajib.”
(Lihat shifat shalat nabi beliau)

Namun yang benar, yang sesuai hadits-hadits yang SHAHIIH dan SHARIIH diatas bahwa membaca al-fatihah adalah WAJIB, dan merupakan SYARAT SAH shalat.
Wallåhu a’lam

Sumber
– Web Abu Mushlih, “Tanya Jawab Seputar al-Fatihah”
– Web Salafy ITB, “Wajibkah membaca al-Fatihah?”
– Idem, “Perhatikan Kaifiyat Membaca al-Fatihah”
– almanhaj.or.id, “Membaca Al-Fatihah Di Belakang Imam [Shalat Jahriyah]”
– almakassari, “Dapat Ruku’, Dapat Raka’at”
– dan lain-lain

Copied from fiqih alfatihah abuzuhriy.com

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 8, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: